Kendari, Miningnews.id – Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) Sulawesi Tenggara menyoroti persoalan keselamatan kerja dan komitmen pembangunan smelter PT Tiran Indonesia.
Organisasi tersebut menilai tragedi kecelakaan kerja di sektor pertambangan harus menjadi perhatian serius pemerintah dan perusahaan.
Kabid Advokasi dan Pergerakan AMAN Sultra, Ikram, mengatakan setiap perusahaan tambang wajib menjamin keselamatan pekerja dan menjalankan seluruh komitmen perizinan.
Menurutnya, aktivitas pertambangan tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan produksi semata.
“Keselamatan pekerja adalah hal utama. Jangan sampai perlindungan pekerja dan lingkungan diabaikan,” tegas Ikram.
Selain aspek keselamatan kerja, AMAN Sultra juga mempertanyakan realisasi pembangunan smelter yang menjadi bagian dari program hilirisasi.
Ikram menyebut pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral merupakan indikator kepatuhan perusahaan terhadap kebijakan pemerintah.
Karena itu, pihaknya meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas PT Tiran Indonesia.
Menurutnya, evaluasi harus mencakup kepatuhan regulasi, pelaksanaan hilirisasi, dan penerapan standar keselamatan kerja.
“Kementerian ESDM harus melakukan evaluasi secara menyeluruh sebelum memberikan perpanjangan RKAB,” ujarnya.
AMAN Sultra mendesak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengevaluasi aktivitas pertambangan PT Tiran Indonesia.
Mereka juga meminta perpanjangan RKAB ditolak apabila perusahaan tidak mampu memenuhi komitmen pembangunan smelter dan kewajiban lainnya.
Selain itu, pemerintah diminta memperketat pengawasan terhadap seluruh aktivitas pertambangan agar sesuai aturan yang berlaku.
Ikram menegaskan AMAN Sultra akan terus mengawal persoalan tersebut demi keselamatan pekerja, perlindungan lingkungan, dan kepentingan masyarakat.
“Investasi harus berjalan dengan tanggung jawab. Negara tidak boleh abai terhadap keselamatan manusia dan komitmen perusahaan,” pungkasnya.*














