Besakih, Karangasem – Dari kaki Gunung Agung, sebuah gerakan kecil dengan dampak besar lahir. Tim Riset Kementerian Agama (MORA) The Air Funds 2026 Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Gde Pudja Mataram menggandeng Poltekkes Kemenkes Denpasar dan Yayasan Rare Semesta menggelar aksi ekoteologi dalam bentuk “Pelatihan Pembuatan Kompos Sampah Canang pada Komunitas Pemuda Adat (Sekaa Teruna) di Lingkungan Pura Agung Besakih”. Kegiatan berlangsung pada Minggu, 31 Mei 2026, mulai pukul 09.00 WITA di Natah Edukasi Rare Semesta, Banjar Dinas Besakih Kawan, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali.
Tim Riset Kementerian Agama (MORA) The Air Funds 2026 Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Gde Pudja Mataram. Diketuai oleh Dr. I Wayan Agus Gunada, S.Pd.H., M.Pd., dengan anggota yang hadir Prof. Dr. Gusti Ngurah Ketut Putera, S.Ag., M.Pd. dan Putu Gede Asnawa Dikta, S.Pd., M.Pd.
Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan bersih-bersih biasa, tetapi merupakan bagian dari Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan (Small Grant) Periode ke-4, sebuah skema pendanaan yang mendukung pencapaian target Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.

Sampah Canang: Dari Persoalan Suci Menjadi Solusi
Persoalan sampah di kawasan suci Pura Agung Besakih selama ini menjadi sorotan, terutama saat puncak rangkaian upacara besar seperti Karya Ida Bhatara Turun Kabeh ketika jumlah pemedek melonjak drastis. Sisa canang, banten, hingga kemasan plastik kerap menumpuk di berbagai titik kawasan pura. Pengelola kawasan bahkan menerapkan pola persembahyangan berbasis zero waste, antara lain dengan meniadakan tong sampah di area Utama Mandala agar setiap pemedek bertanggung jawab membawa pulang sampahnya sendiri.
Di sinilah pelatihan ini hadir sebagai jawaban. Alih-alih membuang sisa canang, para pemuda adat (Sekaa Teruna) diajak mengubahnya menjadi kompos mengembalikan unsur organik ke bumi pertiwi sebagaimana semangat ajaran Hindu. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, khususnya aspek Palemahan, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam semesta.
Ekoteologi: Menjaga Pura, Menjaga Bumi
Konsep yang diangkat dalam kegiatan ini adalah ekoteologi sebuah cara pandang yang menempatkan kesadaran ekologis sebagai bagian dari dharma manusia untuk menjaga keseimbangan kosmos. Gagasan ini juga selaras dengan program penguatan ekoteologi yang digaungkan Kementerian Agama Republik Indonesia, yang mendorong umat beragama menjadikan ajaran agama sebagai landasan pelestarian lingkungan hidup.
Sejumlah pakar dihadirkan sebagai narasumber dalam paparan panel:
Prof. Dr. Gusti Ngurah Ketut Putera, S.Ag., M.Pd. membawakan materi “Relevansi Manajemen Pendidikan Hindu dalam Penguatan Ekoteologi di Pura Besakih untuk Generasi Muda”.
Dr. I Wayan Agus Gunada, S.Pd.H., M.Pd. menyampaikan tema “Ekoteologi: Menjaga Pura Agung Besakih, Menjaga Bumi Pertiwi”.
Dewa Ayu Agustini Posmaningsih, SKM., M.Kes. bersama Tim Poltekkes Kemenkes Denpasar memberikan pendampingan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat.
Dr. I Wayan Karta, M.Si. memandu pendampingan Etnomikia Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Organik dan Pemanfaatan Herbal, lengkap dengan praktik langsung.
Dukungan Project Director FOLU-NC4
Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Project Director FOLU Net Sink 2030 melalui Sumber Dana Kerja Sama Indonesia–Norwegia Tahap Keempat (FOLU-NC4). Acara dibuka secara resmi melalui sambutan Project Director FOLU NC 4, didampingi sambutan Direktur Utama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).
Sebagai informasi, Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan (Small Grant) Periode Keempat diluncurkan Kementerian Kehutanan bersama Pemerintah Norwegia dengan total anggaran mencapai Rp. 7 miliar. Program ini menjadi bagian dari upaya mendukung target FOLU Net Sink 2030 dan didukung melalui mekanisme pendanaan berbasis hasil (Result-Based Contribution/RBC). Hingga kini, kontribusi Norwegia atas capaian Indonesia dalam menurunkan deforestasi telah mencapai sekitar 216 juta dolar AS, dengan RBC tahap keempat sebesar 60 juta dolar AS. Dana disalurkan Kementerian Kehutanan melalui BPDLH, dengan tiga tema utama: FOLU Goes to School, FOLU Terra, dan FOLU Biodiversity.
Skema inilah yang menjadi tulang punggung pendanaan kegiatan Yayasan Rare Semesta di Besakih, membuktikan bahwa pendanaan iklim global dapat turun langsung hingga ke akar rumput, ke tangan para pemuda adat penjaga pura.
Sinergi Lintas Lembaga dan Tokoh Adat
Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi yang melibatkan akademisi, tenaga kesehatan lingkungan, lembaga masyarakat sipil, hingga tokoh adat setempat. Hadir pula Perbekel Besakih, Kelihan Desa Adat Besakih Jro Mangku Widiartha, Kelihan Banjar Dinas dan Banjar Adat Besakih Kawan, serta peserta pelatihan dari unsur pemuda adat (sekaa teruna).
Sambutan perwakilan tim pelaksana disampaikan oleh Bd. Luh Putu Okta Kusumadewi, S.Tr.Keb., M.Pd., “kegiatan ini sebagai pemantik pelestarian lingkungan oleh generasi muda, semoga kepedulian terhadap bumi pertiwi ini bisa memberikan dampak positif berkelanjutan”.
Pemuda Adat, Garda Terdepan Lingkungan
Dengan menyasar Sekaa Teruna sebagai komunitas pemuda adat, kegiatan ini menanamkan kesadaran ekologis sejak dini pada generasi yang kelak akan mewarisi tanggung jawab menjaga kawasan suci Pura Agung Besakih. Mereka tidak hanya diajari teori, tetapi langsung mempraktikkan pengomposan sampah canang dan pemanfaatan herbal lingkungan.
Aksi ekoteologi di Natah Edukasi Rare Semesta ini menjadi bukti nyata bahwa spiritualitas dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan: menjaga kesucian pura sekaligus menjaga bumi pertiwi. Sebuah langkah kecil dari Besakih, untuk Bali yang lebih bersih, dan untuk Indonesia yang berkomitmen mencapai FOLU Net Sink 2030. 036/005
















