Denpasar, Pengelolaan fasilitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mendapat kritik pedas dari kalangan pengusaha di Bali. Bandara yang menjadi gerbang utama pariwisata Pulau Dewata itu justru dikeluhkan karena sejumlah fasilitas di terminal internasional dinilai memprihatinkan dan tidak mencerminkan standar pelayanan bandara kelas dunia.
Kritik keras tersebut disampaikan seorang pengusaha di Bali saat menghubungi awak media pada Minggu (8/11/2026). Ia mempertanyakan keseriusan pengelola bandara dalam menjaga kondisi fasilitas publik yang setiap hari digunakan penumpang dari berbagai negara.
“Naikin berita dong, masak kondisi bandara internasional kita di Bali begini. Pengelola bandara tidur apa cuma makan gaji buta saja,” kritiknya.
Ia mengaku heran melihat kondisi sejumlah fasilitas yang menurut pengamatannya tidak sebanding dengan bandara internasional di negara lain.
“Seluruh dunia kita pergi, gak ada yang model begini,” ujarnya.
Ia kemudian membeberkan beberapa kondisi yang menjadi perhatiannya. Tulisan penunjuk Passport Control disebut sudah robek-robek. Kondisi lantai di sejumlah bagian juga dikeluhkan karena pecah dan terlepas.
Tak hanya itu, debu pada bagian plafon dinilai menunjukkan kurangnya perhatian terhadap kebersihan fasilitas. Sementara toilet di terminal internasional juga disebut dalam kondisi memprihatinkan.
Bagi pengusaha tersebut, persoalan ini bukan sekadar masalah penampilan bangunan. Kondisi fasilitas bandara merupakan bagian dari kualitas pelayanan sekaligus cerminan keseriusan pengelola menjaga kepercayaan pengguna jasa.
Bandara Ngurah Rai memiliki tanggung jawab besar karena menjadi salah satu pintu utama kedatangan wisatawan ke Bali. Sepanjang 2025, jumlah penumpang penerbangan internasional dan domestik yang melalui bandara ini mencapai 11.961.772 orang.
Besarnya arus penumpang tersebut semestinya diimbangi dengan pemeliharaan fasilitas secara konsisten. Kerusakan lantai, penunjuk arah yang robek, kebersihan plafon, hingga kondisi toilet tidak seharusnya luput dari pengawasan rutin.
Pada Agustus 2026, Gubernur Bali Wayan Koster juga memimpin evaluasi peningkatan kualitas pelayanan Bandara Ngurah Rai. Aspek kebersihan, toilet, fasilitas ruang tunggu, penerangan, hingga kenyamanan terminal menjadi bagian dari perhatian.
Namun, keluhan terbaru dari pengusaha ini menjadi pengingat bahwa pemeliharaan fasilitas harus terus dilakukan dan hasilnya dapat dirasakan langsung oleh pengguna jasa.
Terlebih, Bandara Ngurah Rai merupakan salah satu wajah Bali di mata dunia. Wisatawan yang datang tidak hanya menilai keindahan alam dan budaya, tetapi juga kualitas pelayanan sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Dewata.
Karena itu, pengelola bandara dituntut tidak hanya memastikan operasional penerbangan berjalan lancar, tetapi juga menjaga seluruh fasilitas publik agar tetap bersih, aman, nyaman, dan terawat.
Saat dikonfirmasi secara terpisah, pihak pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai belum memberikan respons hingga berita ini diturunkan.
Awak media masih membuka ruang klarifikasi kepada pengelola bandara mengenai berbagai keluhan tersebut, termasuk kondisi penunjuk Passport Control, kerusakan lantai, kebersihan plafon, serta pemeliharaan toilet di terminal internasional.
Penjelasan pihak pengelola diperlukan agar masyarakat mengetahui kondisi sebenarnya sekaligus langkah konkret yang akan dilakukan untuk membenahi fasilitas yang dikeluhkan.(*)

















