LifestylePERISTIWA

Krisis Sampah Kian Parah, Yayasan Cahaya Cinta Kasih Gerakkan Masyarakat Lewat Edukasi Komposting

Denpasar, MiningNews – Krisis sampah di Bali kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Bali, timbulan sampah harian pada tahun 2025 mencapai sekitar 3.400 ton per hari. Namun, hanya sekitar 29% atau setara ± 916 ton yang berhasil dikelola dengan baik melalui sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS). Sementara sisanya, lebih dari 71% (± 2.500 ton), masih menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mencemari lingkungan, serta menurunkan kualitas hidup masyarakat.

Masalah ini bukan lagi sekadar persoalan estetika, tetapi sudah menjadi krisis multidimensi yang berdampak pada kesehatan, ekonomi, perubahan iklim, dan keberlanjutan pariwisata Bali. Kondisi ini mendesak semua pihak untuk bergerak bersama mencari solusi yang konkret.

Sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan, Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) mengambil langkah nyata melalui gerakan “Berbagi Cinta ke Alam”, yang diwujudkan lewat kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Sampah & Edukasi Komposting Skala Rumah Tangga. Kegiatan ini digelar secara hybrid (offline dan daring) pada Minggu, 12 Oktober 2025, dengan melibatkan komunitas lokal dan internasional, termasuk SOUL Community Bali serta peserta dari Norwegia, dengan total peserta lebih dari 150 orang.

Kegiatan yang sarat edukasi ini bertujuan menumbuhkan kesadaran lingkungan, berbagi praktik baik, serta memperkuat komitmen dalam pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan komunitas (banjar). Para peserta yang hadir diajak berdialog, berdiskusi, dan mempraktikkan langsung cara sederhana mengolah sampah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan.

Sekretaris Desa Dauh Peken, Tabanan, I Gede Darmawan, mengungkapkan rasa syukurnya bisa ikut serta berbagi pengalaman dalam acara ini.
“Semua harus peduli lingkungan, dan kita mulai dari diri sendiri,” ujarnya. “Terima kasih kepada Yayasan Cahaya Cinta Kasih yang telah memberi kesempatan untuk berbagi. Harapannya, semakin banyak komunitas dan masyarakat yang ikut bergerak menjaga bumi kita yang dicintai.”

Sementara itu, Utami dari SOUL Community mengatakan bahwa kegiatan ini membuka kesadarannya terhadap bahaya pembakaran sampah dan pentingnya pengelolaan dari rumah.
“Banyak hal baru yang saya pelajari. Ternyata banyak cara sederhana dan bermanfaat untuk mengelola sampah di rumah. Saya jadi lebih sadar dan ingin mulai memilah dan mengolah sampah dengan sabar, demi kebaikan lingkungan,” tuturnya.

Dari kalangan muda, Galang, anggota Gen Z SOUL Community, tampil dengan semangat optimistis.
“Masalah sampah nggak akan selesai kalau kita cuma ngomong,” ujarnya tegas. “Harus mulai dari diri sendiri. Saya senang bisa ikut, karena ini kesempatan buat kami, anak muda, belajar dan peduli. Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi? Lingkungan yang bersih adalah masa depan yang sehat.”

Dukungan juga datang dari relawan lapangan seperti Stephani Gracia Andriana dari TPS3R Sadu Kencana. Ia menilai kegiatan ini bukan sekadar ajang berbagi pengetahuan, tapi juga ruang kolaboratif untuk menemukan solusi nyata.
“Banyak peserta yang aktif bertanya, bahkan dari luar Bali dan luar negeri,” ungkapnya. “Diskusinya hidup, saling belajar, dan semua bersemangat untuk mulai dari wilayah masing-masing. Dari sinilah semangat perubahan itu menyebar.”

Ketua Yayasan Cahaya Cinta Kasih menegaskan, semangat gerakan ini lahir dari keyakinan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah kecil.
“Di saat yang lain mengutuk kegelapan, kita diam-diam menyalakan lilin,” ujarnya penuh makna. “Masalah sampah memang besar, tapi kita memilih untuk menyalakan cahaya — berbuat, melangkah, dan menginspirasi. Setiap tindakan sederhana adalah bagian dari perubahan besar.”

Gerakan “Berbagi Cinta ke Alam” diharapkan menjadi pemantik budaya baru di masyarakat, di mana menjaga dan merawat bumi tidak lagi sekadar kewajiban, tetapi menjadi bentuk cinta yang nyata untuk kehidupan.(*)